Kementan cegah penyebaran kasus antraks di Yogyakarta

Kementerian Pertanian (Kementan) mencegah penyebaran kasus penyakit antraks yang menyerang ternak sapi dan kambing di wilayah Kabupaten Sleman dan Gunung Kidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sehingga tidak menyebar luas.

“Kasus antraks sudah berhasil kita tangani dan cegah meluas. Saya mengingatkan agar kita semua jangan lengah. Pemerintah punya stok vaksin yang sangat cukup dan produksi dalam negeri,” kata Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Nasrullah dalam keterangan di Jakarta, Rabu.

Nasrullah menyampaikan bahwa dalam upaya pencegahan penyakit antraks di Yogyakarta, pihaknya bersama pemerintah setempat telah melakukan vaksinasi terhadap hewan ternak yang dilakukan di Balai Desa Gayamharjo, Prambanan, Sleman.

Ia mengatakan bahwa kasus tersebut menjadi perhatian Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan telah diambil langkah-langkah preventif agar tidak meluas. Kementan secara cepat menangani kasus antraks dengan mengintensifkan desinfeksi, vaksinasi dan pengawasan lalu lintas ternak.

Nasrullah menyebut pihaknya juga telah menyerahkan bantuan Kementerian Pertanian berupa vaksin antraks (2.600 dosis), vitamin (1.500 botol), obat-obatan (600 botol), dan spuit (20.000 set) kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi DIY.

Nasrullah menyoroti pentingnya pemahaman yang baik dari peternak untuk menjaga kesehatan ternak dan mencegah agar kasus antraks tidak terulang. Ia mengimbau peternak apabila menemukan ternaknya sakit, segera dilaporkan kepada petugas dan tidak boleh menyembelih di sembarang tempat.

Nasrullah juga meminta masyarakat jangan mengkonsumsi ternak yang sakit apalagi yang telah mati karena dapat membahayakan kesehatan.

“Sangat penting bagi peternak untuk memahami bahaya antraks dan langkah-langkah pencegahannya. Kita pemerintah harus rutin diberikan edukasi kepada peternak dan melibatkan tokoh-tokoh masyarakat,” ungkapnya.

Nasrullah menambahkan, perlu juga memperkuat check point lalu lintas ternak antar daerah, dan melakukan koordinasi lintas wilayah yang berbatasan. Selanjutnya, Kementan mengharapkan aparat Kepolisian menindak oknum yang menjual ternak sakit atau ternak mati yang diduga antraks.

“Dengan langkah-langkah yang telah diambil oleh pemerintah pusat dan daerah, diharapkan penanganan kasus antraks di DIY dapat dilakukan dengan efektif dan masyarakat dapat tetap tenang dalam membeli olahan daging sapi dan kambing,” katanya.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menjelaskan pihaknya telah melakukan upaya pendataan kelompok ternak di Kabupaten Sleman dan turut memantau perdagangan ternak secara ketat. Terutama, wilayah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Klaten Provinsi Jawa Tengah menjadi fokus utama dalam pemantauan.

“Kami telah melakukan upaya disinfeksi di lingkungan kandang ternak yang positif antraks dan Pemda Sleman terus berupaya memusnahkan daging ternak kena antraks yang telah ditaruh di kulkas-kulkas, kita ambil semua, ini bekerja sama juga dengan TNI dan Polri,” ujar Kustini.

Ia membeberkan telah dilakukan pengobatan dan pemberian vitamin terhadap 143 ekor sapi dan 224 ekor kambing/domba. Vaksinasi juga terus dilakukan pada zona kuning yaitu di Dusun Nawung, Kalinongko, dan Kalinongko Lor agar penyebaran antraks berhenti.

Tidak hanya itu, ia menyampaikan bahwa perlu dukungan Pemprov DIY dan Lurah setempat untuk melakukan sosialisasi dan edukasi agar ternak diduga antraks tidak dikonsumsi dan diperjualbelikan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DI Yogyakarta Hery Sulistio Hermawan menekankan pentingnya koordinasi antar instansi dalam menangani kasus ini.

Menurutnya, seluruh wilayah di DIY harus mengambil langkah tegas dan waspada menyusul munculnya kasus antraks di Sleman dan Gunung Kidul.

“Berawal dari 2 Februari 2024 terjadi utamanya di Kalinongko Kidul, Gayamharjo, beruntun sampai tanggal 7 Maret 2024. Kemudian pada tanggal 23 Februari 2024 juga terjadi kasus di Serut. Artinya ada di dua lokasi penyakit antraks. Dua lokasi tersebut saling berdekatan di perbatasan dengan jarak 100-200 meter,” terangnya.

Ia menyampaikan telah terjadi kematian dua ekor sapi dan 10 ekor kambing dan saat ini sudah 11 hari sudah tidak ditemukan kasus lagi. Artinya, kematian ternak yang terakhir terkonfirmasi yaitu tanggal 7 Maret 2024.

“Update penanganan yaitu telah dilakukan disinfeksi, pengobatan antibiotik dan vitamin sebanyak 750 ekor terdiri dari 238 sapi dan 519 kambing. Vaksinasi akan dilaksanakan 14 hari setelah ternak diobati. Untuk Klaten yang menjadi daerah terancam, juga telah vaksinasi 242 ekor yaitu terdiri dari 140 sapi 55 kambing 47 domba,” kata Hery.***

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *